Perjuangan Kemerdekaan Indonesia : Kilas Sejarah dan Pertempurannya

Perjuangan Kemerdekaan Indonesia : Kilas Sejarah dan Pertempurannya

Perjuangan rakyat untuk menantang penjajahan diawali semenjak datang di Malaka pada 1509. Di bawah pimpinan Alfonso de Alburquerque mereka ingin meluaskan kekuasaan di Tanah Air untuk menggali sumber kekayaan alam yang dipunyai, terhitung rempah-rempah. Tetapi perlawanan keras digaungkan Fatahillah pada periode itu

Salah satu kunci keberhasilan perjuangan kemerdekaan indonesia yaitu perjuangan panjang sampai pada akhirnya bangsa ini dapat memproklamasikan kemerdekaan yang selalu kita merayakan tiap 17 Agustus. Bahkan juga, dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, bangsa ini pernah rasakan sejarah gelap dijajah oleh bangsa asing.

Buka Juga :

Banyak kejadian penting yang terjadi dalam perjuangan sampai dapat memproklamasikan kemerdekaan. Berikut ialah beberapa momen dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Silahkan baca pembahasan dengan detil berikut ini :

Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Perjuangan rakyat Indonesia tidak stop sesudah proklamasi kemerdekaan. Beberapa penjajah yang ingin merampas Indonesia, membuat rakyat berpadu untuk menjaga kemerdekaan. Semenjak tanggal 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaannya.

Bangsa Indonesia sudah jadi bangsa yang merdeka dan bebas dari belenggu penjajahan Negara lain. Tetapi, ada beberapa pihak yang tidak mengaku kedaulatan pemerintah Republik Indonesia. Belanda masih tetap ingin menjajah kembali bangsa Indonesia dengan beragam langkah.

Baca Juga Artikel Ini :

Sesudah Jepang berserah ke Sekutu, semua negara jajahan Jepang di Asia Tenggara diambil pindah oleh pasukan sekutu, yaitu AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies). Pekerjaan AFNEI ialah terima penyerahan kekuasaan dari tangan Jepang, melepaskan tentara Sekutu yang ditahan Jepang, menanggalkan dan kumpulkan beberapa orang Jepang untuk dipulangkan ke negerinya.

Pertempuran Kemerdekaan Indonesia

Indonesia lakukan beragam usaha untuk menjaga kemerdekaan, salah satunya dengan lewat perjuangan membawa senjata. Berikut sejumlah pertempuran perjuangan indonesia, sebagai berikut :

1. Pertempuran Surabaya

Pertempuran arek-arek Surabaya dengan faksi Sekutu bersama NICA dimulai oleh kejadian bendera di Hotel Yamato, Surabaya, tanggal 19 September 1945. Salah seorang tentara Belanda turunkan bendera merah putih lalu menukarnya dengan bendera Belanda. Ini memunculkan amarah rakyat Surabaya. Arek-arek Surabaya turunkan bendera Belanda dan menyobek warna biru supaya jadi warna bendera Indonesia.

Selainnya kejadian perobekan bendera, kehadiran pasukan Sekutu ke Surabaya di tanggal 25 Oktober 1945 yang dipegang oleh Brigjen A.W.S. Mallaby memacu amarah arek-arek Surabaya. Ini muncul karena tentara Sekutu melepaskan tahanan di penjara di Kalisosok, menempati Pangkalan Udara Tanjung Perak, dan Gedung Internatio. Beberapa pemuda juga menantang dan memunculkan pertempuran membawa senjata yang tewaskan Brigjen A.W.S. Mallaby.

2. Pertempuran Ambarawa

Pertempuran Ambarawa dikarenakan oleh ada penganiayaan dan intimidasi pada warga Magelang yang memunculkan perlawanan dari TKR. Perlawanan ini terjadi semenjak 23 November 1945 sampai 12 Desember 1945, dengan dipegang oleh Imam Adrongi dan Letkol M. Sarbini.

Buka Juga :

Pertempuran Ambarawa sukses memukul mundur pasukan Sekutu dan NICA ke Ambarawa, lho! Letkol Isdiman, Mayor Suharto, dan Kolonel Sudirman ikut juga turut serta dalam pertempuran Ambarawa.

Pasukan Sekutu dan NICA yang tertekan di tanggal 15 Desember 1945 pada akhirnya tinggalkan wilayah Ambarawa dan mengidentifikasi usainya pertempuran Ambarawa. Untuk kenang kembali kejadian ini tiap tanggal 15 Desember diperingati sebagai Hari Infanteri.

3. Bandung Lautan Api

Di bulan Oktober 1945, pasukan Sekutu dan NICA mulai tiba dan lakukan wargaan pada kota Bandung. Pasukan Sekutu dan NICA selekasnya keluarkan peringatan ke rakyat Bandung untuk memberikan senjata punya mereka, hingga memacu amarah. Pertempuran membawa senjata selanjutnya berjalan sepanjang periode waktu November 1945-Maret 1946.

Pucuk pertempuran terjadi saat tanggal 23 Maret 1946, faksi Sekutu dan NICA keluarkan peringatan untuk kosongkan kota Bandung. Komandan Seksi III Siliwangi A.H. Nasution bersama pemuda ambil ide untuk kosongkan kota Bandung dan membakar semua kota dan infrastruktur penting pemerintah atau militer di tanggal 24 Maret 1946.

Baca Juga :

Salah satu figur yang berperanan dalam pertempuran ini ialah Moh. Toha yang perlu luruh saat berusaha ledakkan gudang mesiu punya NICA di Bandung Selatan. Kejadian ini selanjutnya dikenali dengan Kejadian Bandung Lautan Api.

4. Pertempuran Medan Tempat

Pertempuran Medan Tempat muncul karena beberapa kejadian. Pertama ialah kejadian yang sudah dilakukan oleh salah satu penghuni hotel di Jalan Bali, Medan tanggal 13 Oktober 1945, yang mencapai lencana merah putih. Beberapa pemuda Indonesia yang geram selanjutnya serang hotel itu hingga muncul beberapa korban.

Ke-2  ialah ada peringatan dari pimpinan tentara Sekutu di Sumatera Utara, yaitu T.E.D. Kelly tanggal 18 Oktober ke rakyat Indonesia untuk memberikan senjatanya ke Sekutu. Ini memacu perlawanan di antara rakyat Medan dengan sekutu. Ditambah di tanggal 1 Desember 1945, faksi Sekutu memasangkan papan-papan yang tertulis Fixed Boundaries Medan Tempat di beberapa pojok tepian kota Medan.

5. Puputan Margarana

Semenjak Maret 1946, Belanda sukses menempati banyak daerah di Bali. Perlawanan ada di bawah pimpinan I Gusti Ngurah Rai ditolong oleh TRI-Laut Kapten Markadi. Pada periode itu, Indonesia sudah menyetujui kesepakatan Linggarjati di mana secara de facto daerah Indonesia cuma terbagi dalam Sumatera, Jawa dan Madura. Ngurah Rai masih tetap usaha menyingkirkan Belanda dari Bali dengan lakukan long march dan bergerilya menantang lawan.

Pucuk gempuran pasukan Belanda terjadi tanggal 20 November 1946. Pasukan Belanda mengepung dusun Marga tempat I Gusti Ngurah Rai sembunyi. Meskipun ada kesetidakimbangan kemampuan di antara tentara Indonesia dan Belanda.

I Gusti Ngurah Rai masih tetap berperang sampai titik darah penghabisan. Pada 29 November 1946, Ngurah Rai luruh dalam pertempuran menantang Belanda. Pertempuran seru di antara Belanda dan tentara Indonesia di Bali dikenali dengan Perang Puputan (pertempuran mati-matian).

Destinasi Wisata Saksi Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Perjuangan Kemerdekaan Indonesia : Kilas Sejarah dan Pertempurannya

Indonesia mempunyai bermacam wisata sejarah yang menyebar di beberapa kota. Tiap destinasi simpan sejarah dan nilai perjuangan yang besar sekali untuk Kemerdekaan Indonesia. Nach, berikut ialah 7 destinasi wisata sejarah, saksi perjuangan pahlawan dalam merampas kemerdekaan dari tangan penjajah:

Tugu Proklamasi

Salah satu destinasi wisata monumental sebagai saksi perjuangan kemerdekaan Indonesia ialah Tugu Proklamasi. Pada tempat berikut Ir. Soekarno, ditemani oleh Moh. Hatta, membacakan Dokumen Proklamasi, sekalian jadi pertanda kemerdekaan Indonesia.

Di periode kemerdekaan lokasi Tugu Proklamasi ini sebagai rumah dari Si Proklamator tersebut. Soekarno membacakan text proklamasi kemerdekaan Indonesia di teras depan tempat tinggalnya, di Jalan Pegangsaan Timur nomor 56, Jakarta.

Baca Juga :

Sekarang jalan itu berpindah nama jadi Jalan Proklamasi. Walau rumah monumental itu telah lama ditumbangkan, namun tetap ada bangunan lambang di titik itu. Pada Tugu Proklamasi berdiri tiga monumen monumental, yaitu Tugu Petir, Patung Soekarno-Hatta, dan Tugu Wanita.

Rumah Rengasdengklok

Rumah dari Tionghoa, Djiaw Kie Siong, atau yang dikenali dengan Rumah Rengasdengklok sebagai tempat monumental yang kuat hubungannya dengan kejadian penculikan Bung Karno dan Bung Hatta.

Saat malam mendekati kemerdekaan Indonesia, figur kelompok muda progresif Indonesia memiliki inisiatif melarikan Soekarno dan Hatta. Penculikan ini mempunyai tujuan untuk menahan Soekarno Hatta dari dampak Jepang.

Disamping itu, kelompok duda menekan Soekarno untuk selekasnya umumkan kemerdekaan Indonesia lewat peristiwa Rengasdengklok. Karena jadi salah satu lokasi monumental, pada 1957 Bung Karno memerintah supaya rumah ini dipindah ke Jakarta. Sekarang kita bisa menyaksikan bangunan monumental itu tepat ada di belakang Tugu Proklamasi.

Hotel Majapahit

Berada di jantung Kota Surabaya, Hotel Majapahit yang dulunya namanya Hotel Yamato ini jadi saksi pertempuran heroik di antara pemuda Surabaya dengan Belanda. Waktu itu pemuda Indonesia tersulut emosi atas kedatangan penjajah di Surabaya saat kemerdekaan.

Mereka lalu menyobek warna biru pada Belanda yang dikibarkan di muka Hotel Yamato, hingga jadi bendera merah putih. Kejadian ini sebagai cikal-bakal pecahnya kejadian 10 November 1945, yang sekarang terus diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Benteng Fort Rotterdam

Walau dibuat beratus-ratus tahun lalu, Benteng Fort Rotterdam tetap berdiri gagah di tengah-tengah Kota Makassar. Kehadiran benteng ini tidak bisa dipisah dari kedatangan Kongsi Dagang Belanda (VOC) di Sulawesi.

Dulunya, Benteng Rotterdam digunakan sebagai basis instruksi pertahanan, kantor perdagangan, sampai pusat pemerintah Belanda di daerah timur Indonesia. Sesudah seringkali berpindah peranan, sekarang Benteng Rotterdam jadi salah satu object wisata sejarah paling besar di Makassar. Koleksi menarik di Benteng Rotterdam ialah dokumen La Galigo, yang dianggap UNESCO sebagai Memori of The World.

Gedung Joeang 45

Telusuri narasi perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia tidak dapat dipisah dari Gedung Joeang 45. Wisata sejarah kemerdekaan ini dulunya sebuah hotel yang diatur oleh keluarga L.C. Schomper.

Baca Juga Artikel Ini :

Tetapi pada beberapa detik kemerdekaan gedung itu diambil pindah pemuda Indonesia, dan jadi tempat training dan pengajaran. Ada beberapa beberapa benda monumental perjuangan pemuda Indonesia yang ada dalam Gedung Joeang 45.

Museum Pendefinisian Dokumen Proklamasi

Dahulunya bangunan ini sebagai tempat tinggal Laksamana Tadashi Maeda. Beliau sebagai salah satu perwira angkatan laut Jepang yang menolong Indonesia merangkum dokumen proklamasi. Sekarang rumah monumental yang berada di Jalan Imam Bonjol No. 1 Menteng, Jakarta Pusat itu beralih menjadi museum semenjak 1992.

Lebih baru Lebih lama